Terapi musik untuk anak autis &Hyperaktif

Bagi anak-anak yang memiliki masalah dalam perilaku dan perkembangan, seperti autis atau hiperaktif, terapi integrasi sensorik bisa menjadi salah satu alternatif.

Di usia 2,5 tahun, Arsya belum menunjukkan tanda-tanda berbicara layaknya anak seusianya. Kata "ayah" dan "ibu" saja tak kunjung keluar dari mulut mungilnya. Ia hanya bisa ber-"u-u-u" atau "bu-bu-bu" saja.

Menjelang usia 4 tahun, kemampuan bicaranya masih belum berubah. Ini berlangsung sampai Arsya akhirnya menjalani terapi sensory integration sesuai dengan rekomendasi seorang ahli.

Dan hasilnya luar biasa. Tak sampai setahun, ia sudah dapat merangkai kalimat. Bukan hanya itu. Kini, di usianya yang ke-5, kemampuan bicaranya berkembang dengan normal.

Apa itu integrasi sensorik? Menurut dr. Jean Ayres, Ph.D , terapis anak dari Amerika Serikat, mendefinisikan integrasi sensorik atau sensory integration sebagai pengaturan input sensor. Apa artinya?

Untuk gampangnya begini. Setiap saat, anak akan menerima beragam input yang disampaikan ke otak melalui kelima pancainderanya. Nah, informasi tersebut bisa tak sengaja diperoleh (seperti suara-suara di sekitarnya) atau sengaja dicari (seperti membaca buku).

Tentu saja, otak tidak akan melahap mentah-mentah semua input yang masuk tadi. Makanya, otak akan memilah-milah dan menseleksi mana yang perlu diperhatikan dan mana yang perlu diabaikan. Kemudian, otak akan memutuskan apakah input tersebut akan direspons dalam sebuah reaksi, ataukah hanya disimpan dalam memori saja. Nah, untuk mengolah semua input yang masuk itu, diperlukan sebuah proses integrasi sensorik.

Terapi Penyembuhan. Bisa saja, proses integrasi sensorik seorang anak tidak bekerja dengan baik. Kalau otak tidak dapat memproses input dengan baik, maka otak juga tidak bisa mengatur perilaku anak secara efektif. Padahal, tanpa integrasi sensorik yang baik, proses belajar jadi sulit dan anak juga merasa tidak nyaman akan dirinya sendiri. Akibatnya si anak akan sulit beradaptasi terhadap tekanan-tekanan dan tuntutan-tuntutan dari luar.

Sebaliknya, bila ia mampu mengintegrasikan berbagai input dengan baik, maka otaknya dapat berkembang dengan baik pula. Hasilnya, ia akan menunjukkan tingkat perkembangan motorik, kognitif, emosi, dan sosialisasi sesuai usianya. Nah, terapi integrasi sensorik ini adalah cara ampuh untuk memulihkan kemampuan anak untuk mengintegrasikan sinyal yang ia terima dari dunia luar.

Yang harus dicatat adalah sebelum serta merta menggabungkan anak anda ke kelas terapi ini, Anda perlu konsultasi dulu ke dokter. Biasanya pemeriksaan dilakukan dengan:
• Tes khusus dan observasi terhadap respon anak antara lain terhadap stimulasi sensorik, keseimbangan dan postur tubuh.
• Wawancara dengan orang tua untuk mengetahui perkembangan anak dan perilaku anak sehari-hari.
Pada prinsipnya, dengan terapi ini anak disuruh melakukan serangkaian aktivitas dengan memakai alat-alat tertentu dibawah bimbingan seorang terapis. Semua alat-alat ini secara khusus dirancang untuk memberikan rangsangan pada lokasi-lokasi sensor.

Sekilas, bagi yang pertama kali melihatnya, terapi ini tampak seperti permainan saja. Misalnya, anak disuruh bermain lilin. Sebenarnya, aktivitas ini berfungsi untuk mengirim impuls taktil (perabaan) ke otak.

Setiap anak akan mendapat 1 jam terapi, baik kasus yang ringan maupun berat. Sedangkan durasinya tergantung dari kemampuan anak. Misalnya, jika anak takut bermain trampolin, ia tidak akan dipaksa. Hitungan waktu bukan suatu patokan dalam melakukan terapi, tapi hanya suatu stimulasi agar anak dapat melakukan terapi dengan baik dan bervariasi.

Tapi ingat, terapi ini tidak akan berhasil jika orang tua melepaskan anaknya begitu saja pada terapis. Artinya kerjasama antara orang tua dan terapis sangat diperlukan agar dicapai hasil yang optimal.

Sumber : ayahbunda.co.id

PEDOMAN MENDIDIK ANAK AUTIS


Apa Itu Autisme?

Autisma berasal dari kata auto yang berarti sendiri. Penyandang autisma seakan-akan hidup di dunianya sendiri.
Autisme adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial.
Autisme adalah gangguan perkembangan khususnya terjadi pada masa anak-anak, yang membuat seseorang tidak mampu mengadakan interaksi sosial dan seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri. Pada anak-anak biasa disebut dengan Autisme Infantil.

2 Jenis Autisme
Autisme terbagi dua, yaitu:

a. Autisme Klasik

Adanya kerusakan saraf sejak lahir, karena sewaktu mengandung, ibu terinfeksi virus, seperti rubella, atau terpapar logam berat berbahaya seperti merkuri dan timbal yang berdampak mengacaukan proses pembentukan sel-sel saraf di otak janin.

b. Autisme Regresif

Autisme regresif muncul saat anak berusia antara 12 sampai 24 bulan. Sebelumnya perkembangan anak relatif normal, namun tiba-tiba saat usia anak meninjak 2 tahun kemampuan anak merosot. Yang tadinya sudah bisa membuat kalimat 2 sampai 3 kata berubah diam dan tidak lagi berbicara. Anak terlihat acuh dan tidak mau melakukan kontak mata. Kesimpulan yang beredar di klangan ahli menyebutkan autisme regresif muncul karena anak terkontaminasi langsung oleh faktor pemicu. Yang paling disorot adalah paparan logam berat terutama merkuri dan timbal dari lingkungan.

Apa Penyebab Autisme ?

Penyebab yang pasti dari autisme tidak diketahui, yang pasti hal ini bukan disebabkan oleh pola asuh yang salah. Penelitian terbaru menitikberatkan pada kelainan biologis dan neurologis di otak, termasuk ketidakseimbangan biokimia, faktor genetik dan gangguan kekebalan.
Beberapa kasus mungkin berhubungan dengan:
- Infeksi virus (rubella kongenital atau cytomegalic inclusion disease)
- Fenilketonuria (suatu kekurangan enzim yang sifatnya diturunkan)
- Sindroma X yang rapuh (kelainan kromosom).

Gejala Autisme

Untuk memeriksa apakah seorang anak menderita autis atau tidak, digunakan standar internasional tentang autisme. ICD-10 (International Classification of Diseases) 1993 dan DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual) 1994 merumuskan kriteria diagnosis untuk Autisme Infantil yang isinya sama, yang saat ini dipakai di seluruh dunia. Kriteria tersebut adalah : Harus ada sedikitnya 6 gejala dari (1), (2), dan (3) seperti di bawah ini, dengan minimal 2 gejala dari (1) dan masing-masing 1 gejala dari (2) dan (3).
a. Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial yang timbal balik.

Minimal harus ada 2 dari gejala di bawah ini :

1. Tak mampu menjalin interaksi sosial yang cukup memadai : kontak mata sangat kurang, ekspresi
muka kurang hidup, gerak gerik kurang tertuju
2. Tidak bisa bermain dengan teman sebaya
3. Tak ada empati (tak dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain)
4. Kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional yang timbal balik
b. Gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi.

Minimal harus ada 1 dari gejala di bawah ini :

1. Perkembangan bicara terlambat atau sama sekali tak berkembang. Anak tidak berusaha untuk
berkomunikasi secara non-verbal
2. Bila anak bisa bicara, maka bicaranya tidak dipakai untuk berkomunikasi
3. Sering menggunakan bahasa yang aneh dan diulang-ulang
4. Cara bermain kurang variatif, kurang imajinatif, dan kurang dapat meniru
c. Adanya suatu pola yang dipertahankan dan diulang-ulang dalam perilaku, minat, dan kegiatan.

Minimal harus ada 1 dari gejala di bawah ini :

1. Mempertahankan satu minat atau lebih dengan cara yang sangat khas dan berlebihan
2. Terpaku pada suatu kegiatan yang ritualistik atau rutinitas yang tidak ada gunanya
3. Ada gerakan-gerakan aneh yang khas dan diulang-ulang
4. Seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian benda.
Pendapat lain mengatakan bahwa gejala autisme antara lain:
a. Perkembangan terhambat, terutama dalam kelakuan dasar hidup bermasyarakat (misalnya :
tersenyum dan berbicara).
b. Bermain sendiri, tidak mau berkumpul dengan anggota keluarga atau orang lain.
c. Lesu dan tidak acuh terhadap orang lain yang mencoba berkomunikasi dengannya.
d. Sedikit atau tidak ada kontak mata.
e. Mengerjakan sesuatu yang rutin tanpa dipikir dan berperangai buruk jika dilarang akan
membangkitkan kemarahan.
f. Pada umumnya pertumbuhan jiwa terbelakang
g. Pada beberapa kasus, anak tersebut mempunyai keahlian tertentu dan sangat pandai, misalnya :
menggambar, matematika, musik, melukis (Infokes, 2005).

Selain gejala-gejala seperti yang disebutkan di atas, beberapa sifat lainnya yang biasa ditemukan pada anak autis antara lain :

a. Sulit bergabung dengan anak-anak yang lain
b. Tertawa atau cekikikan tidak pada tempatnya
c. Menghindari kontak mata atau hanya sedikit melakukan kontak mata
d. Menunjukkan ketidakpekaan terhadap nyeri
e. Jarang memainkan permainan khayalan
f. Lebih senang menyendiri, menarik diri dari pergaulan, tidak membentuk hubungan pribadi yang
terbuka
g. Memutar benda
h. Terpaku pada benda tertentu, sangat tergantung kepada benda yang sudah dikenalnya dengan baik
i. Secara fisik terlalu aktif atau sama sekali kurang aktif
j. Tidak memberikan respon terhadap cara pengajaran yang normal
k. Tertarik pada hal-hal yang serupa, tidak mau menerima/mengalami perubahan
l. Tidak takut akan bahaya
m. Terpaku pada permainan yang ganjil
n. Ekolalia (mengulang kata-kata atau suku kata)
o. Tidak mau dipeluk
p. Tidak memberikan respon terhadap kata-kata, bersikap seolah-olah tuli
q. Mengalami kesulitan dalam mengungkapkan kebutuhannya melalui kata-kata, lebih senang meminta
melalui isyarat tangan atau menunjuk
r. Jengkel/kesal membabi buta, tampak sangat rusuh untuk alasan yang tidak jelas
s. Melakukan gerakan dan ritual tertentu secara berulang (misalnya bergoyang-goyang atau mengepak-
ngepakkan lengannya)
t. Anak autis mengalami keterlambatan berbicara, mungkin menggunakan bahasa dengan cara yang
aneh atau tidak mampu bahkan tidak mau berbicara sama sekali. Jika seseorang berbicara dengannya,
dia akan sulit memahami apa yang dikatakan kepadanya. Anak autis tidak mau menggunakan kata
ganti yang normal (terutama menyebut dirinya sebagai kamu, bukan sebagai saya).
u. Pada beberapa kasus ditemukan perilaku agresif atau melukai diri sendiri.
v. Kemampuan motorik kasar/halusnya ganjil, tidak ingin menendang bola tetapi dapat menyusun balok.
Gejala-gejala tersebut bervariasi, bisa ringan maupun berat. Selain itu, perilaku anak autis biasanya
berlawanan dengan berbagai keadaan yang terjadi dan tidak sesuai dengan usianya.

Pengobatan

1. Tujuan

Tujuan dari pengobatan pada penderita autisme adalah:
a. Membangun komunikasi dua arah yang aktif,
b. Mampu melakukan sosialisasi ke dalam lingkungan yang umum dan bukan hanya dalam lingkungan keluarga,
c. Menghilangkan dan meminimalkan perilaku tidak wajar,
d. Mengajarkan materi akademik, serta
e. Meningkatkan kemampuan Bantu diri atau bina diri dan keterampilan lain.
Hal terpenting yang bisa dilakukan oleh orang tua adalah menemukan program intervensi dini yang baik bagi anak autis. Tujuan pertama adalah menembus tembok penghalang interaksi sosial anak dan menitikberatkan komunikasi dengan orang lain melalui cara menunjuk jari, menggunakan gambar dan kadang bahasa isyarat serta kata-kata. Program intervensi dini menawarkan pelayanan pendidikan dan pengobatan untuk anak-anak berusia dibawah 3 tahun yang telah didiagnosis mengalami ketidakmampuan fisik atau kognitif.

2. Terapi

Jenis terapi yang bisa dilakukan pada anak autisme adalah sebagai berikut:

a. Terapi perilaku

1) Terapi okupasi
Terapi okupasi dilakukan untuk membantu menguatkan, memperbaiki koordinasi dan keterampilan
otot pada anak autis.
2) Terapi wicara
Terapi wicara (speech therapy) merupakan suatu keharusan, karena anak autis mempunyai
keterlambatan bicara dan kesulitan berbahasa.
3) Sosialisasi dengan menghilangkan perilaku yang tidak wajar

b. Terapi biomedik

Pada masa remaja, beberapa perilaku agresif bisa semakin sulit dihadapi dan sering menimbulkan depresi. Kadang obat-obatan bisa membantu meskipun tidak dapat menghilangkan penyebabnya. Haloperidol terutama digunakan untuk mengendalikan perilaku yang sangat agresif dan membahayakan diri sendiri. Fenfluramin, buspiron, risperidon dan penghambat reuptake serotonin selektif (fluoksetin, paroksetin dan sertralin) digunakan untuk mengatasi berbagai gejala dan perilaku pada anak autis.

c. Sosialisasi ke sekolah regular

Anak autis yang telah mampu bersosialisasi dan berkomunikasi dengan baik dapat dicoba untuk memasuki sekolah formal sesuai dengan umurnya dengan tidak meninggalkan terapi perilakunya.

d. Sekolah (Pendidikan) Khusus

Pada sekolah (pendidikan) khusus ini dikemas khusus untuk penderita autis yang meliputi terapi perilaku, wicara dan okupasi, bila perlu dapat ditambahkan dengan terapi obat-obatan, vitamin dan nutrisi yang memadai (Handojo, 2004: 29).
Program pendidikan untuk anak autis sangat terstruktur, menitikberatkan kepada kemampuan berkomunikasi dan sosialisasi serta teknik pengelolaan perilaku positif. Strategi yang digunakan di dalam kelas sebaiknya juga diterapkan di rumah sehingga anak memiliki lingkungan fisik dan sosial yang tidak terlalu berbeda (Medicastore, 2004).
Dukungan pendidikan seperti terapi wicara, terapi okupasional dan terapi fisik merupakan bagian dari pendidikan di sekolah anak autis. Keterampilan lainnya, seperti memasak, berbelanja atau menyebrang jalan, akan dimasukkan ke dalam rencana pendidikan individual untuk meningkatkan kemandirian anak. Tujuan keseluruhan untuk anak adalah membangun kemampuan sosial dan berkomunikasi sampai ke tingkat tertinggi atau membangun potensinya yang tertinggi (Medicastore, 2004).

F. Problematika Menghadapi Anak Autis

Problematika yang timbul dalam menghadapi anak autis dapat ditinjau dari berbagai faktor, yaitu :
a. Faktor Penderita (Autisme)
1. Autisme disebabkan oleh adanya gangguan neurobiologis dan kimiawi di dalam susunan saraf pusat yang terjadi pada anak berusia dibawah 3 tahun. Karena itu terapinya menjadi sangat sulit atau bahkan mustahil
2. Ada / tidak adanya penyakit fisik atau psikis lain yang menyertainya
3. Gangguan interaksi sosial
4. Gangguan komunikasi
5. Tingkah laku, minat dan aktifitasnya terbatas, berulang dan stereotipik.
b. Faktor orang tua dan keluarga
1. Pada umumnya, pengetahuan orang tua dan keluarga dari anak autis tentang autisme masih sangat
rendah sehingga penanggulannya sering terlambat
2. Orang tua dan keluarga menjadi gelisah, cemas, depresi bahkan putus asa setelah pengobatan yang
diberikan sekian lama tidak menunjukkan hasil yang nyata
3. Orang tua dan keluarga menjadi hilang kesabarannya dan tidak peduli lagi pada anaknya, karena
pengobatan yang diberikan sekian lama tidak menunjukkan hasil yang nyata
4. Orang tua dan keluarga menjadi over protected akibat munculnya perasaan bersalah / berdosa telah
melahirkan anak autis.
c. Faktor lingkungan masyarakat
Pengetahuan masyarakat yang sangat minim tentang autisme mengakibatkan mereka tidak peduli dan
menganggap rendah anak autis, atau bahkan menganggap anak autis adalah anak yang tidak berguna.
d. Faktor diagnostik dan terapi
Idealnya terapi deberikan sedini mungkin dan melibatkan beragam profesi keahlian. Tetapi, tidaklah
mudah membuat diagnosis dini anak autis, terutama bila dokternya belum banyak pengalaman.
Karena itu terapinya sering terlambat.
e. Faktor lingkungan pendidikan
Belum ada lingkungan pendidikan / sekolah yang memadai untuk mengelola anak autis secara komprehensif.
Pada anak autis, pendidikan dan pelatihan yang dilandasi rasa kasih sayang dan keterlibatan orang tua / keluarganya mutlak diperlukan agar mereka mampu mengembangkan kemampuannya secara optimal. Untuk mengembangkan kemampuan anak autis, perlu pendekatan yang bersifat intersektoral dan interdisiplin. Karena itu, perlu dibuat suatu program yang terpadu dan berkesinambungan dengan langkah-langkah yang terstruktur, jelas dan mudah dimengerti oleh tim atau orang-orang yang terlibat dalam upaya membangun dan mengembangkan kemampuan anak autis tersebut.
Strategi dalam menyusun dan melaksanakan langkah-langkah dimaksud adalah :
a. Tegakkan diagnostik
b. Informasi kepada orang tua / keluarganya
c. Terapi medik
d. Pendidikan dan pelatihan untuk anak autis
e. Bimbingan untuk orang tua dan keluarganya
f. Membangun kerjasama orang tua dan keluarga dengan anak
g. Membentuk ikatan keluarga orang tua anak autis
h. Evaluasi perkembangan kemampuan anak
i. Rencana lebih lanjut (KNAI, 2003: 168).

Tatalaksana terapi anak Autisme di Rumah

Ada beberapa persyaratan yang diperlukan untuk menjalankan terapi anak autis di rumah, yaitu :
b. Pengetahuan orang tua akan metode terapi
c. Pengelolaan proses terapi yang menyangkut pengawasan dan pembinaan terapis
d. Ruangan yang bebas distraksi, cukup sejuk dan cukup penerangan
e. Dibutuhkan meja dan kursi anak
f. Alat peraga dan peralatan latihan motorik dan sensoris yang sesuai dengan materi yang akan diberikan
g. Evaluasi proses terapi secara periodic
h. Dana yang cukup untuk membayar 2 – 3 orang terapis
i. Terapis yang handal dalam melakukan terapi perilaku (Handojo, 2004: 40).
Apabila semua syarat di atas dapat disediakan, maka terapi di rumah dapat menjadi pilihan utama. Tetapi apabila tidak mungkin menyediakan persyaratan minimal ini, maka terapi sebaiknya dilakukan di institusi, terapi di rumah dijadikan sebagai kelanjutan terapi di sekolah.

Mengajarkan Kemampuan Merawat / Bantu Diri Anak Autisme

1. Pengertian

Kemampuan merawat diri adalah kecakapan atau keterampilan untuk mengurus atau menolong diri sendiri dalam kehidupan sehari-hari sehingga tidak tergantung pada orang lain.

2. Tujuan Latihan Merawat Diri

Bagi anak autis, tujuan latihan merawat diri adalah :
a. Agar dapat melakukan sendiri keperluannya sehari-hari
b. Menumbuhkan rasa percaya diri dan meminimalkan bantuan yang diberikan
c. Memiliki kebiasaan tertib dan teratur
d. Dapat menjaga kebersihan dan kesehatan badannya
e. Dapat beradaptasi dengan lingkungannya pada kondisi atau situasi di mana ia berada
f. Dapat menjaga diri dan menghindar dari hal-hal yang membahayakan.

3. Prinsip-prinsip Latihan Merawat Diri

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh orang tua sebelum mempraktekkan merawat diri pada anak :
a. Mengenal dan menerima keberadaan anak sehingga dapat merancang program yang efektif
b. Memperhatikan kesiapan anak dalam menerima latihan-latihan
c. Belajar dalam keadaan rileks dengan instruksi yang tegas tanpa ragu-ragu tetapi tidak menimbulkan
ketegangan bagi anak
d. Guru atau pelatih menggunakan kata-kata instruksi yang tetap dan sama begitu pula yang dilakukan
orang tua dan anggota keluarga yang lain
e. Setiap melakukan kegiatan iringilah dengan percakapan dan gunakan kata-kata yang sederhana
f. Latihan diberikan dengan singkat dan sederhana, tahap demi tahap dan satu
g. Tahapan dimulai dari hal termudah
h. Tetapkanlah disiplin, jangan menyimpang dari ketetapan utama, waktu maupun tempat, karena akan
membingungkan
i. Teruslah memberi motivasi bila anak belum berhasil dan berikan pujian bila usaha yang dilakukan anak berhasil dengan baik
j. Kesalahan dan kecelakaan adalah hal biasa, mungkin saja anak jatuh karena memasukkan kedua kakinya bersama-sama dalam lobang celana
k. Fleksibilitas.

3. Ruang Lingkup Materi Kemampuan Merawat Diri

Materi pelajaran menunjukkan apa yang harus diajarkan serta sejauh mana keluasan dan kedalamannya. Materinya adalah :
a. Kebersihan badan antara lain melatih
1. Cuci tangan
2. Cuci muka
3. Sikat gigi
4. Mandi
5. Keramas
6. Menggunakan kamar kecil/WC

b. Makan dan minum meliputi :

1. Makan menggunakan tangan
2. Makan menggunakan sendok
3. Minum menggunakan cangkir
4. Minum menggunakan gelas
5. Minum menggunakan sedotan

c. Berpakaian, antara lain :

1. Memakai pakaian dalam
2. Memakai baju kaos
3. Celana/rok
4. Kemeja
5. Kaos kaki dan sepatu
d. Berhias, meliputi :
1. Menyisir rambut
2. Memakai bedak
3. Memakai aksesoris

e. Keselamatan diri, meliputi :

1. Bahaya benda tajam atau runcing
2. Bahaya benda api dan listrik
3. Bahaya lalu lintas
4. Bahaya binatang
f. Adaptasi lingkungan, antara lain :

1. Mengenal keluarga dekat
2. Mengenal guru/pelatih
3. Mengenal dan bermain bersama teman.
a) Tahapan Pembelajaran Latihan Merawat Diri
1. Tahap persepsi
2. Tahap kesiagaan
3. Tahap sambutan
4. Tahap tindakan mekanis
5. Tahap sambutan yang kompleks
6. Tahap bervariasi
7. Tahap keaslian.

Design by WPThemesExpert | Blogger Template by BlogTemplate4U